GAds

Big-Files: Kasus Kartel Terbesar

Big-Files: Kasus Kartel Terbesar

Ges, seminggu ini ramai kabar gulung tikar Garuda Indonesia (PT Garuda Indonesia/PT-GI),
karena enanggung utang Rp 70 Trilliun.
Tapi tahu kah kamu di 2020, PT-GI bersama 6 perusahaan maskapai lainnya menjadi telapor
dalam kasus kartelisasi harga tiket angkutan udara niaga, penumpang kelas ekonomi dalam
negeri?
Melalui Perkara 15/KPPU-I/2019, PT-GI menjadi telapor atas dugaan pelanggaran Ps 5 dan Ps
11 UU 5/1999. Waduhh, sudah jatuh masih tertimpa tangga.
Btw emang, emang kartel apaan sih Min?

Kartel, sendiri merupakan
persengkongkolan antar pelakusaha yg
bermaksud untuk mempengaruhi harga dg
mengatur produksi dan/atau pemasaran
barang/jasa (Ps 11 UU 5/1995). Kartel in
merupakan persaingan usaha yg dilarang
karena tujuan menguasai padar dg
merugikan Pelaku Usaha Lainnya.

Umumnya, kartel mempunyai karakteristik:
1. Ada konspirasi (persengkongkolan) antar pelakuusaha
2. Antar pelaku usaha melakukan persengkongkolan price fixing (penetapan harga) +
penetapan kuota produksi.
3. Umumnya menggunakan asosiasi tertuntu untuk menutupi kartel tersebut.
4. Menggunakan ancaman/sanksi bagi anggota yg melanggar kesepakatan/perjanjian.
5. Adanya distribusi informasi rahasia internal perusahaan ke seluruh anggota
kartel.Informasi yg dimaksud berupa: laporan keuangan, laporan penjualan, laporan
produksi..
6. Selalu melakukan upaya mencegah masuknya pelaku usaha/pesaing baru.

Simpelnya nih Ges, praktik kartel bisa diindikasi: misal dalam 1 (satu) kelas usaha/produk
perdagangan yg sama terdapat 10-15 perusahaa, tapi hanya 1-5 yang mendominasi.
Perusahaan yg mendominasi ini, kemudian memperdagangkan produk/jasanya dg harga sama
atau selisih tidak terlalu besar.
Dampaknya Ges, walaupun dg kartel ini pelaku usaha bersengkongkol menetapkan harga yg
tinggi, para konsumen tidak memili banyak opsi pasar, ssehingga praktik ini tidak mengurangi
minat konsumen.
Jadi Ges, kartel tidak hanya merugikan pelaku usaha lainnya, tapi juga memaipulasi konsumen
lho

Kasus-Kasus Kartel Yg Mencuri Perhatian Publik:
Kartel Penetapan Tarif Layanan SMS
Di tahun 2004-2008, 6 (enam) perusahaan seluler,
yakni PT Telkom, PT Telkomsel, PT Bakrie
Telecom, PT Mobile-8 Telecom Tbk, PT
Excelcomindo Pratama Tbk (XL) adan PR Smart
Telecom, terbukti melakukan persengkongkolan
harga (kartel) tarif SMS senilah Rp 350,-/sms.
Praktik kartel ini setidaknya merugikan konsumen
mencapai Rp 2,827 Trilliun

Kartel Minyak Goreng Curah.
Mei 2010, KPPU memutus jika telah
terjadi price parallelism pada harga
minyak goreng curah+kemasan.
Praktik kartel ini dilakukan oleh 20
produsen minyak goreng, adapun
kerugian yg dialami masyarakat
mencapai Rp 1,27 Trilliun.

Kartel Garam
Tahun 2005, KPPU memutus terjadinya
praktek kartel garam oleh PT Garam, PT
Budiono, PT Garindo, PT Graha Reksa, PT
Sumatera Palm, UD Jangkar Waja, UD
Sumber Samudera. KPPU akhirnya Rp 2
Miliyar

Kartel Penetapan Harga Tiket dalam Fuel
Surcharge
Mei 2010, KPPU memutus 9 (sembilan) maskapai
PT Sriwijaya, PT Metro Batavia, PT Lion Merpati
Airliness, PT Wings Abadi Airlines, PT Merpati
Nusantara Airliness, PT Travel Express Aviation
Service + PT Mandala Airlines dg melakukan
kesepakatan harga patokan avtur selama tahun
2006-2009. Praktek ini merugikan konsumen
hingga Rp 13,8 Trilliun

SLIDE 8
Tapii Ges, tidak semua kegiatan persengkongkolan harga dilarang lhoo, contohnya:
1. Perjanjian yg berkaitan dg perlindungan HAKI, misal lisensi merek, paten, hak cipta, dsb
2. Perjanjian waralaba
3. Perjanjian keagenan yg bertujuan memasok barang dg harga lebih rendah.
4. Perjanjian kerjasama penelitian untuk tujuan IPTEK.
5. Perjanjian kerjasama internasional.

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Mulai WA
    1
    Hubungi Kami
    Halo Rencang, ada yang bisa kami bantu?