Gen Z Beralih ke Kopi dan Matcha, Penjualan Miras Merosot Tajam
Perubahan selera Generasi Z bukan lagi sekadar isu gaya hidup, melainkan sudah menjadi fenomena ekonomi yang nyata. Dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi minuman beralkohol mengalami penurunan signifikan, sementara minuman non-alkohol seperti kopi, matcha, dan minuman fungsional justru mencatatkan pertumbuhan pesat.
Di tengah tren ini, industri minuman beralkohol dilaporkan mengalami penurunan penjualan hingga 46%, sebuah angka yang menggambarkan perubahan besar dalam peta konsumsi generasi muda.
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: Gen Z sedang mendefinisikan ulang makna hiburan, relaksasi, dan pergaulan sosial.
Alkohol Tak Lagi Menjadi Simbol Gaya Hidup
Jika dulu alkohol identik dengan kebebasan, pergaulan, dan gaya hidup modern, bagi Gen Z citra itu mulai memudar. Banyak anak muda kini memandang alkohol sebagai sesuatu yang:
- berisiko bagi kesehatan,
- mengganggu produktivitas,
- dan tidak sejalan dengan prinsip well-being yang mereka anut.
Berdasarkan laporan Bloomberg, saham dari seluruh perusahaan miras global turun $830 miliar (Rp14,02 kuadriliun) selama lebih dari 4 tahun. Angka ini setara dengan penurunan sebanyak 46% dibanding masa puncak mereka pada Juni 2021
Berbagai survei global menunjukkan bahwa Gen Z lebih banyak memilih untuk mengurangi bahkan menghindari konsumsi alkohol dibanding generasi milenial maupun generasi sebelumnya.
Data dari Berenberg Research, Gen Z di AS mengonsumsi miras 20% lebih rendah dibanding milenial. Ini menunjukkan adanya pergeseran budaya konsumsi minuman yang siginifikan.
Kesadaran terhadap kesehatan mental, kualitas tidur, dan performa kerja menjadi alasan utama. Alkohol tidak lagi dianggap “keren”, justru sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang kontraproduktif.
Di Indonesia sendiri, konsumsi alkohol per kapita tergolong rendah dan cenderung stagnan bahkan menurun, terutama di kelompok usia muda. Hal ini memperkuat tekanan terhadap industri miras yang selama ini bergantung pada regenerasi konsumen.
Kopi dan Matcha Mengisi Ruang yang Ditinggalkan Alkohol
Di saat alkohol ditinggalkan, kopi dan matcha naik kelas menjadi simbol sosial baru. Ngopi tidak lagi sekadar kebutuhan kafein, tetapi menjadi aktivitas sosial, budaya, bahkan identitas generasi.
Secara global terdapat pertumbuhan sebanyak 3,4% konsumsi pada minuman kopi. Sementara di Asia konsumsi kopi melonjak sebesar 14,5%.
Data industri menunjukkan bahwa konsumsi kopi nasional terus meningkat dari tahun ke tahun. Indonesia kini bukan hanya produsen kopi besar dunia, tetapi juga pasar konsumsi yang berkembang pesat, terutama di perkotaan. Kedai kopi tumbuh hampir di setiap sudut kota, menyasar konsumen muda dengan konsep:
- tempat kerja fleksibel,
- ruang diskusi,
- hingga ruang kreatif.
Di Indonesia, kopi menjadi favorit mayoritas masyarakat, dengan konsumsi kopi nasional diperkirakan akan mencapai 4,8 juta kantong (sekitar 288.000 ton) pada 2025.
Matcha juga mengalami lonjakan popularitas. Minuman berbasis teh hijau asal Jepang ini identik dengan gaya hidup sehat, rendah alkohol (bahkan nol alkohol), kaya antioksidan, dan sering dikaitkan dengan konsep mindfulness serta clean living. Di media sosial, matcha menjadi bagian dari estetika hidup sehat Gen Z.
Ledakan Minuman Fungsional dan Non-Alkohol
Selain kopi dan matcha, Gen Z juga mendorong pertumbuhan minuman fungsional: kombucha, teh herbal, sparkling non-alcoholic drinks, hingga minuman berbasis adaptogen. Data penjualan remark dari retailer besar menunjukkan bahwa penjualan minuman fungsional meningkat sekitar 54%.
Gen Z menjadi kontributor signifikan tren ini karena mereka menganggap minuman ini sebagai alternatif sehat untuk alkohol atau minuman bergula tinggi. Pasar minuman ini tumbuh pesat karena menawarkan:
- rasa yang unik,
- manfaat kesehatan,
- dan pengalaman minum tanpa risiko alkohol.
Bagi Gen Z, minuman tidak lagi hanya soal rasa, tetapi juga soal nilai: apakah minuman tersebut mendukung kesehatan, keberlanjutan, dan citra diri.
Hal ini menjelaskan mengapa minuman non-alkohol semakin diterima sebagai pilihan utama dalam berbagai acara sosial.
Perubahan Pola Sosial: Dari Bar ke Kafe
Pergeseran konsumsi ini juga mengubah lanskap sosial. Jika generasi sebelumnya menghabiskan waktu di bar atau klub malam, Gen Z lebih banyak menghabiskan waktu di kafe. Kafe menjadi ruang aman untuk bersosialisasi, bekerja, belajar, atau sekadar menikmati waktu sendiri.
Alkohol yang identik dengan mabuk dan kehilangan kontrol tidak lagi relevan dengan gaya hidup Gen Z yang mengutamakan kesadaran diri dan produktivitas. Minum kopi atau matcha justru mendukung aktivitas harian tanpa mengorbankan energi dan fokus.
Industri Miras di Persimpangan Jalan
Penurunan konsumsi dari Gen Z menjadi pukulan serius bagi industri miras. Generasi muda yang seharusnya menjadi pasar masa depan justru menjauh. Banyak produsen mulai merespons dengan menghadirkan produk yang rendah alkohol atau bahkan tanpa alkohol sama sekali.
Namun, transisi ini tidak mudah. Produk non-alkohol harus bersaing langsung dengan kopi, teh, dan minuman sehat yang sudah lebih dulu menguasai pasar Gen Z. Tanpa inovasi dan perubahan strategi, industri miras berisiko semakin terpinggirkan.
Dampak Ekonomi yang Lebih Luas
Di sisi lain, tren ini membuka peluang besar bagi:
- UMKM kedai kopi,
- produsen matcha,
- dan industri minuman sehat.
Pertumbuhan sektor ini menciptakan lapangan kerja baru, mendorong inovasi produk, serta memperkuat ekonomi kreatif. Tren ini juga selaras dengan kebijakan pemerintah yang mendorong sektor UMKM dan industri makanan-minuman sebagai penggerak ekonomi nasional.
Penutup: Gen Z Sedang Mengubah Arah Pasar
Pilihan Gen Z terhadap kopi dan matcha bukanlah tren sesaat. Ini adalah refleksi dari perubahan nilai, kesadaran, dan gaya hidup. Penurunan industri miras hingga 46% menjadi sinyal kuat bahwa pasar sedang bergeser.
Industri yang mampu membaca arah ini akan bertahan dan berkembang. Yang tidak, perlahan akan ditinggalkan. Satu hal yang pasti, Gen Z bukan hanya konsumen, tetapi penentu arah masa depan industri minuman.
Lantas, menurutmu penurunan tren minuman beralkohol merupakan hal yang positif atau negatif? Tulis pendapatmu di kolom komentar.


