GAds

Sertifikasi Halal yang Diakui

Halal itu pada dasarnya menurut ajaran Agama Islam merupakan hal yang universal. Artinya selain secara ketat diterapkan pada seluruh umat Islam tanpa terkecuali, Halal pun dapat dinikmati oleh kalangan manusia manapun. Bahkan bagi yang non-muslim, tidak menutup kemungkinan memilih produk Halal sebagai preferensi konsumsinya. Hal itu dikarenakan salah satu syarat mutlak untuk mendapatkan sertifikasi Halal adalah kebersihan dan higienitas bahan baku, proses serta tempat produksi. Maka Sertifikasi Halal pun juga dikenal di negara lain selain Indonesia. Selain melindungi umat Islam yang bermukim di negara yang bersangkutan, juga memiliki tujuan untuk mengkampanyekan olahan Halal. Nah bagaimana jika ada bahan impor yang masuk Indonesia namun telah memiliki Sertifikasi Halal di negara asal? Apa saja Sertifikasi Halal yang diakui?

Diakui MUI. Pemerintah? Entahlah…

Kita telah mendengar isu-isu yang terjadi belakangan, berkaitan dengan “perebutan kewenangan” untuk memberikan cap Halal. MUI yang sedari dulu meng-handle vs BPJPH di bawah Kementerian Agama yang belum matang sehingga ujung-ujungnya bekerjasama dengan pihak swasta. Akan tetapi hingga saat ini, semua Sertifikasi Halal tersebut diakui. Maka kita akan mengambil sisi dari “yang lebih matang” dulu yaitu dari MUI. MUI sendiri mengakui Sertifikasi Halal yang dikeluarkan oleh 45 lembaga yang tersebar di seluruh penjuru dunia, terdapat di sekitar 26 Negara. Mereka semua disebut sebagai “Halal Certification Bodies” atau HCB.

MUI mengakui Sertifikasi Halal yang dikeluarkan oleh HCB dengan syarat turut melampirkan dokumen Sertifikasi Halal dari lembaga terkait, dan memperhatikan juga note yang menyertai. Yang dimaksud “note” disini misalnya HCB dari Brazil jangkauannya tidak hanya di Negara Brazil, tapi juga negara-negara Amerika Latin. Dan juga yang perlu diperhatikan, terdapat tiga kategorisasi produk Halal yang diakui meliputi “Slaughtering” (Penyembelihan), “Raw Material” (Bahan Baku) dan “Flavor” (Rasa atau Tambahan). Tidak semua HCB meng-cover tiga kategori tersebut. Ada HCB yang hanya mencakup dua kategori bahkan hanya satu kategori, yang diakui oleh MUI. Terdapat 37 HCB yang mencakup Slaughtering, 40 HCB mencakup Raw Material dan 22 HCB mencakup Flavor.

Halal Recognized-Automatically?

Nah… Itulah jawabannya. Dalam website ini, yang mana kamu juga bisa mengetahui mana-mana saja HCB yang diakui, MUI mengatakan bahwa memiliki Sertifikasi Halal dari negara asal yang diakui oleh MUI sekalipun tidak secara otomatis produk tersebut lolos. Masih ada kemungkinan besar bahwa MUI akan melakukan pengecekan ulang untuk memastikan produk yang masuk benar-benar Halal. Bagaimana caranya? MUI akan meminta dokumen tambahan yang mungkin berasal dari HCB negara asal, mungkin seperti surat keterangan. Hal ini ditujukan supaya MUI mendapatkan informasi yang lebih up-to-date. Karena bisa saja ada produsen nakal yang sudah memiliki Sertifikasi Halal namun dalam proses usahanya memasukkan kandungan yang memiliki titik kritis Halal.

Nah sekarang kamu sudah tau kalau mengimpor atau memasukkan produk luar ke Indonesia itu harus dicek terlebih dahulu. Apakah produknya memiliki Sertifikasi Halal yang diakui? Jika iya, maka proses belum usai. Hubungi kami untuk info lebih lanjut atau klik disini!

#TerbaikTercepatTerpercaya

#KlinikHukumTerpercaya

#SemuaAdaJalannya

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Mulai WA
    1
    Hubungi Kami
    Halo Rencang, ada yang bisa kami bantu?