GAds

Tentang PIRT dan Pernak-Perniknya

Setelah kita banyak membahas mengenai Halal dan BPOM, kali ini kita akan membahas tentang PIRT dan pernak-perniknya. Apa itu PIRT? PIRT Sebetulnya merupakan salah satu mekanisme izin edar alternatif bagi pelaku usaha UMKM. Yap, izin usaha ini memang diperuntukkan bagi usaha buatan sendiri atau buatan rumah (Homemade) atau biasa kita sebut dengan industri rumahan. Kalangan ibu-ibu yang memiliki sampingan, memproduksi produk konsumsi dalam skala menengah kebawah. Atau keluarga yang memiliki bisnis kecil-kecilan dimana “merakit” produknya di rumah sendiri tanpa rumah produksi yang terpisah. Dengan terbatasnya kapasitas ruang produksi, maka kuantitas produksi pun berbanding lurus terbatasnya. Maka pendapatan dan keuntungan yang diterima pun tidak mungkin sebesar pabrik raksasa.

Dilematika Beredarnya “Karya” Keluarga

Usaha tentu bukanlah merupakan hal yang dilarang. Bahkan bisa dikatakan, hukum positif negara kita mendorong peningkatan usaha masyarakat melalui perangkat hukumnya. Contohlah KUHD, yang memberi alternatif badan usaha tak berbadan hukum “affordable” selain berbentuk PT dan CV. Usaha juga sangat diperlukan untuk sirkulasi supply and demand. Masyarakat bisa saling melakukan “barter” untuk saling memenuhi kebutuhannya. Menjual produk-produk industri rumahan, tentu saja akan meningkatkan variasi produk di pasar yang pastinya menguntungkan konsumen. Jangan lupa secara logika, sifat dari produk industri rumahan dipastikan lebih murah dan kompetitif dibandingkan produk keluaran pabrik. Harga bisa ditekan karena “birokrasi” produksi yang tidak rumit dan alur usaha yang tidak berbelit-belit. Pada intinya, adanya produk karya industri rumahan akan selalu menguntungkan bagi pasar.

Oke sekarang kita berlanjut pada inti dari dilema produk industri rumahan ini. Apalagi jika berkaitan dengan kualitas produknya. Dengan skala modal yang minim, berbanding lurus dengan jaminan kualitas yang rendah. Tiga parameter sederhana bagi orang awam untuk menilai kualitas produk adalah: kebersihan, kesehatan dan kenyamanan. Suatu produk harus dinilai apakah bersih atau tidak, mulai dari mutu produk, alur distribusi hingga dalam proses produksi. Okelah dalam tahapan itu suatu produk dapat dikatakan bersih, tapi apakah sehat? Apakah bahan baku yang digunakan higienis dan diperbolehkan dalam konteks gizi? Jangan-jangan walaupun bersih tapi menggunakan bahan baku yang membahayakan kesehatan. Faktor ketiga tentu saja kenyamanan dalam mengonsumsi produk itu. Disini, admin bagi menjadi dua yaitu kualitas dan kuantitas. Kualitas tentu kita akan membawa masalah rasa, sedangkan kuantitas akan menilai banyak tidaknya sajian produk. Dan sebetulnya apa yang kamu baca di paragraf ini, adalah alasan mengapa izin edar merupakan hal yang penting bagi produsen. 🙂

PIRT: Pengisi Ikatan (Produk) Rumahan dan Tebaran (Produk)

Bahasa yang digunakan admin kali ini cukup unik. Pengisi ikatan maksudnya mengisi celah. Produk Rumahan ya karya yang dihasilkan dari industri rumah tangga. Sedangkan tebaran produk berarti persebaran atau peredaran produk di pasar.  Seperti yang telah kita bahas di atas, mekanisme izin edar khususnya diperuntukkan untuk menilai kesehatan dan kebersihan produk. Sedangkan kenyamanan? Konsumen sendiri yang berhak menilai. Maka izin edar menjadi sangat penting untuk menciptakan stabilisasi Bargaining Position. Produsen mendapat keuntungan, konsumen mendapat kenyamanan.

Tanpa izin edar, hanya produsen yang diuntungkan karena mendapat laba. Mereka bebas meracik suatu produk sesukanya, bahkan bisa saja menafikkan kebersihan dan kesehatan. Sedangkan masyarakat hanya tinggal pasrah mengonsumsi produk itu yang mungkin saja membahayakan kesehatan. Izin Edar, hadir untuk meminimalisir “kesewenangan” produsen dan menyeimbangkan kebutuhan keduanya. Sehingga hanya produk dengan kualitas sesuai standar (umumnya dinilai dari kesehatan) yang diizinkan beredar di pasaran. Dari sini paham kan kenapa pemerintah mengeluarkan mekanisme bernama izin edar?

Akan tetapi sayangnya, kita tahu bahwa izin edar yang bersifat nasional seperti BPOM dan SNI memiliki tarif biaya yang mahal. Bahkan kemungkinan kecil industri rumah tangga bisa menjangkaunya. Akan tetapi di sisi lain, baik produsen rumahan maupun masyarakat (setidaknya dalam lingkup lokal atau regional) memerlukan produk rumahan tersebut baik untuk memenuhi kebutuhan, menyesuaikan dengan finansial maupun sebagai alternatif substitusi produk. Disinilah PIRT hadir untuk mengisi gap (celah) tersebut. Dimana suatu produk bisa beredar di pasar akan tetapi dengan biaya izin edar yang relatif terjangkau. Lalu apa bedanya dengan BPOM dan SNI? Yang pasti adalah lingkup izin edarnya yang hanya dalam skala lokal atau regional.

Berkenalan dengan PIRT

Kita terlalu banyak ngobrol seputar pentingnya izin edar, sampai lupa mengungkit tentang PIRT dan pernak-perniknya. (padahal dah jadi judul post ini) 😀 PIRT merupakan singkatan dari Izin Produk Industri Rumah Tangga. Sering disingkat PIRT, P.IRT, atau P-IRT (intinya sama saja). PIRT dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan, yang secara struktural memang berada di tingkat daerah provinsi atau daerah kabupaten/kota. Maka disinilah kita bisa melihat dengan jelas bahwa jangkauan peredaran produk yang memiliki izin PIRT adalah di tingkat lokal atau regional saja. Skalanya tidak akan sampai skala nasional. Secara normatif, PIRT sendiri tersebar di banyak regulasi. Contohlah Undang-Undang Pangan, Undang-Undang Kesehatan hingga Undang-Undang Pemerintahan Daerah. Tapi pengaturan teknis mengenai PIRT dapat dijumpai di peraturan daerah masing-masing wilayah provinsi maupun kabupaten atau kota.

Apa atau bagaimana kriteria usaha dan produk yang memerlukan Sertifikasi PIRT? Kita tidak perlu menjelajah banyak sekali peraturan daerah, cukup kita ambil ekstraksi parameter umum produk yang wajib PIRT. Pertama, skala produksi jelas menengah kebawah. Artinya, produk tidak diproduksi dalam skala besar. Hal ini berkaitan dengan parameter kedua yaitu rumah produksi yang digunakan punya kapasitas produksi yang sangat terbatas. Bahkan rumah produksinya berdampingan atau menjadi satu dengan rumah tinggal. Ketiga, masih bersinggungan yaitu modal usaha dan kalkulasi finansial yang tidak banyak. Keempat, produk bukanlah kebutuhan nasional. Tidak seperti mie instan yang disukai berbagai kalangan, biasanya demand terhadap produk itu hanya hype di cakupan wilayah tertentu. Dan yang kelima, produk tidak bertahan lama. Bagaimana parameternya? Menurut admin, pada umumnya produk tersebut bertahan tidak lebih dari enam bulan.

Okeh itu tadi bahasan kita tentang PIRT dan pernak-perniknya. Kamu mau mengurus izin PIRT untuk produkmu? Just simply call us.

#TerbaikTercepatTerpercaya

#KlinikHukumTerpercaya

#SemuaAdaJalannya

    Leave Your Comment

    Your email address will not be published.*

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Mulai WA
    1
    Hubungi Kami
    Halo Rencang, ada yang bisa kami bantu?